Kam 14 Dzulhijjah 1445AH 20-6-2024AD
Artikel

Surat Cinta Seorang Ibu (3)

Salam jihad pendidikan penuh cinta dan semangat, dari seorang ibu untuk anaknya yang kini mengayunkan langkah untuk mengabdikan diri menjadi khadim Allah swt., melanjutkan perjuangan Rasulullah saw dalam menjaga kalamullah “Alquran al-Karim”. Surat ini ibunda tuliskan, bukan karena pengalaman atau ilmu pengetahuan ibunda selama hidup di dunia telah banyak, tidak! Hidup ibunda mu masih terhitung baru di dunia, akan tetapi ibu paham, bahwa ibu tidak akan hidup untuk waktu yang lama.

Oleh sebab itu, ibu berharap pengalaman dan ilmu pengetahuan ibunda yang sedikit ini mampu menemani liku-liku jihad pendidikan ananda kelak, sehingga ananda mampu melewati semua tantangannya dengan lebih tenang.

Anakku, ada kisah seorang ulama besar yang ke-mashurannya terkenal di seluruh pelosok dunia, beliau bernama Habib Umar bin Hafidz. Pada suatu hari beliau tiba-tiba menangis dan ketika ditanya mengapa beliau menangis, maka beliau menjawab: “Kita berdakwah disambut dengan berbagai makanan, sedangkan Rasululullah saw. dahulu berdakwah disambut dengan batu-batu”. Mendengar hal tersebut ibunda berfikir cukup lama dan tertunduk malu, betapa banyaknya sekarang di antara kita umat Rasulullah saw. yang berdakwah dan mengajarkan ilmu pengetahuan, hanya apabila ujroh/gaji sesuai dengan yang diharapkan, naudzubillah min dzalik.

Anakku! Penerus perjuangan. Seorang yang bijak pernah berkata bahwa uang bukanlah segalanya, tapi segalanya butuh uang anakku dan secara tidak langsung Islam juga mengajarkan umatnya untuk menjadi seorang yang kaya, kaya dengan ukuran minimalnya mampu menyempurnakan keislamannya dengan melaksanakan ibadah haji, sebab dari semua poin yang ada dalam rukun Islam, hanya mengucap dua kalimat syahadat yang tidak membutuhkan materi.

Seorang muslim apabila ingin melaksankan salat, dia pasti membutuhkan pakaian, ingin membayar zakat juga butuh materi, berpuasa juga butuh materi untuk membeli bukaan, akan tetapi tujuan utama bukanlah materi anakku. Kamu harus ingat! Berada dalam jihad pendidikan tujuannya adalah melanjutkan perjuangan Rasulullah saw., maka jangan sesekali kamu berhenti atau berpaling dari jihad pendidikan ini, hanya sebab materi yang tidak memadai.

Anakku! Belajarlah dari kisah para sahabat yang diceritakan dalam Alquran yang engkau hafal, bahwa banyak para sahabat yang mundur dari barisan Rasululullah saw. dalam keadaan bercucuran air mata, disebabkan perasaan sedih ketika itu, karena tidak memperoleh sesuatu apapun untuk ikut mendapingi perjuangan jihad Rasulullah saw. Oleh sebab itu, tingkatkanlah kesyukuranmu anakku, sebab engkau telah dianugerahi oleh Allah swt. Ilmu pengetahuan, sehingga dapat berada dalam barisan jihad pendidikan yang mulia ini. Percayalah anakku! Allah yang Maha Melihat mustahil melupakan rezeki mu yang telah berazam meneruskan perjuangan kekasih-Nya dalam mengajarkan ilmu pengetahuan dan menjaga kalam-Nya.

Anakku! Janganlah sesekali engkau jengkali rezekimu hanya bersumber dari ujroh hasil jerih payahmu, tidak! Sumber rezeki dalam Alquran sangat beragam. Rezeki mu bias saja dating karena usahamu (Q.S. an-Najm/53: 39), akan tetapi ada juga rezeki yang datang dengan tidak terduga (Q.S. at-Thalaq/65: 2-3), rezeki yang telah dijamin (Q.S. Hud/11: 6), rezeki yang datang karena rasa syukur (Q.S. Ibrahim/14: 7), rezeki yang datang karena bersedekah (QS. al-Baqarah/2: 245), rezeki karena adanya anak (Q.S. al-Isra’17: 31), rezeki karena menikah (Q.S.an-Nur/24: 32), dan rezeki yang datang disebabkan istigfar (Q.S. Nuh/71: 10-11). Berusaha adalah kewajiban manusia, akan tetapi hasil serahkan lah kepada yang Maha Mengatur anakku!.               

Ingat anakku! Jangan sesekali engkau pernah ragu dengan janji Allah, setiap kebaikan yang kamu laksanakan, maka pasti kebaikan tersebut akan kembali kepadamu dengan berlipat ganda, bahkan dalam Shahih Bukhari Rasulullah saw. berpesan bahwa kebaikan yang disertai dengan keimanan dan keikhlasan dapat berlipat ganda menjadi 700 x lipat atau lebih. Bukankah ibunda menempuh pendidikan Doktor bersamaan waktunya dengan masuknya kelima anak-anak ibunda ke Pesantren ini untuk menghafal Alquran, meskipun ibunda ketika itu tidak memiliki tabungan sepeserpun dan ujroh ibunda juga tidak sampai UMP, namun ternyata sekarang kalian telah selesai menghafal Alquran, bahkan ibunda bisa menyelesaikan pendidikan Doktor, juga berkah dari kalian yang berada dalam jihad pendidikan, maka cukup lah itu menjadi pelajaran bagimu anakku.

Materi yang banyak belum tentu cukup, akan tetapi rezeki Allah swt. selalu cukup bagi hamba-Nya yang pandai bersyukur. Wallahua’lam.

Oleh:

Dr. Fatimah Rahma Rangkuti. Pendidik di Lembaga MHQ YIC-SU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *