Rasionalisasi Pemikiran Beragama

Salah satu sifat kita yang aneh sebagai seorang Muslim adalah suka memaksakan pemikiran dan pendapat kita kepada orang lain. Sampai dengan detik ini, belum jelas bagi kita dari siapa sifat suka memaksakan pemikiran dan pendapat ini diwarisi. Kalau mau mewarisi akhlak manusia yang agung itu, Nabi Muhammad saw., pasti tidak akan cocok, karena manusia agung itu tidak pernah memaksa orang supaya sepemikiran dan sependapat dengan beliau. Malah manusia agung itu memberikan kebebasan berfikir dan berpendapat sesuai dengan kecenderungan masing-masing orang. Yang lebih mengagumkan, beliau berusaha meyakinkan orang dengan ragumentasi-argumentasi yang rasional-logis, bukan dengan cara ngotot dan kekerasan.  

Belum pernah kita temukan satu riwayat pun yang menginformasikan bahwa beliau memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Bahkan, kebebasan yang beliau berikan itu tidak hanya sampai pada tingkatan pemikiran saja, akan tetapi dalam urusan surga neraka pun, manusia Agung itu tetap memberikan kebebasan memilih kepada orang lain. Sikap yang selalu beliau tonjolkan tidak lepas dari spirit dan diktum wahyu Tuhan yang menyatakan, “Yang mau percaya silahkan! yang tidak mau percaya juga tidak apa-apa”. Sebenarnya, masih banyak teks wahyu yang senada dan seirama dengan bunyi firman Tuhan yang kita kutip itu. Tapi yang itu sajalah kita tampilkan.

Kalau sikap yang dikembangkan uswatun hasanah itu sebegitu bebasnya, lantas apa yang membuat sebagian kita suka memaksakan pendapat dan pemikiran kita kepada orang lain. Satu hal yang perlu dicatat, kebebasan berbeda pendapat yang beliau contohkan itu, tentang percaya atau tidak, sasarannya bukan “penafsiran” Alquran, sasarannya adalah Alquran langsung, sekali lagi, bukan penafsirannya, akan tetapi Alqurannya.

Aneh sekali bukan? Terhadap Alquran saja manusia agung itu tidak memaksakan orang untuk percaya, mengapa kita terhadap “penafsiran” Alquran saja sangat berani memaksakan orang lain supaya ikut pemahaman kita, atau memaksa orang lain supaya ikut pemahaman mazhab kita. Berarti kita mau menyaingi manusia agung itu. Kalau sifat seperti ini yang terus kita pelihara dan pertahankan, tidak jelas lagi kita mencontoh siapa dalam beragama.

Kalau mau mencontoh manusia agung itu, memang seperti itu keadaannya, beliau tidak main paksa dalam hal pendapat dan pemikiran. Sifat toleran yang di contohkan manusia agung ini sangat jauh berbeda dengan ungkapan yang sering kita temukan, baik di media sosial maupun di tempat diskusi yang bernuansa Islam. Di antara uangkapan-ungkapan yang menyakitkan hati dan telinga itu adalah, “Ini yang benar, itu salah, inilah sesuai dengan Hadis, inilah mazhab yang paling benar dan paling sesuai dengan Alquran, siapa yang tidak tahu kitab ini kafir, bid’ah, masuk neraka dan sesat”.

Agaknya, kita memang lebih bersemangat dari Tuhan dalam memasukkan orang ke neraka, sedangkan yang punya neraka itu adalah Dia yang Maha Penyayang itu. Padahal Alquran, bukan penafsirannya, mengajarkan dengan tegas ungkapan seperti ini, “Bisa jadi kita sama-sama benar, dan bisa jadi juga kita sama-sama salah” Kalau memang mengaku sebagai pengikut manusia idola itu, mari kita contoh beliau dalam memberikan kebebasan berfikir dan berpendapat!

Beliau tidak pernah pakai kata-kata yang menyudutkan, akan tetapi selalu mengakomodir setiap pendapat yang datang kepada beliau dengan kepala dingin, memperlakukan setiap orang secara egaliter dan terbuka, dan kalau ternyata analisis beliau melesat, dengan lapang dada beliau mengkui kesalahan analisis tersebut. Padahal beliau mendapat bimbingan wahyu loh.Tapi ternyata salah juga sekali-sekali. Mengapa kita yang tidak mendapat bimbingan wahyu merasa bahwa kebenaran selalu ada di pihak kita?

Terkadang sifat memaksakan pendapat itu lahir bukan karena alasan intelektual, tapi bisa jadi lahir dari fanatisme mazhab, fanatisme organisasi, fanatisme tempat pengajian, fanatisme majelis taklim, fanatisme terhadap penafsiran seseorang, fanatisme terhadap guru, fanatisme pesantren, fanatisme kitab-kitab dan, yang paling aneh, fanatisme kepentingan. Sifat fanatisme pemahaman dan mazhab, bukan “fanatic” Alquran, itu sering mematikan semangat intelektual, itulah kadang yang membuat diskusi-diskusi di perkuliahan, seminar, pelatihan dan lain-lain, yang katanya, ilmiah berubah menjadi tidak ilmiah lagi. Kadang dalam diskusi yang awalnya mengedepankan intelektual, akan tetapi karena sifat fanatisme terhadap penafsiran, pemahaman, aliran, golongan, organisasi atau seorang ulama, sontak saja diskusi itu berubah menjadi mengedepankan emosi.

Makanya debat atau diskusinya jadi “lawak-lawak”. Yang satu ngomong, “Apa argumentasi saudara dalam hal ini? Kawannya menjawab, “Tidak ada, tapi begitulah kata ulama ini, kata ulama itu, kita hormati saja dia, dia lebih faham dari kita, kamu tahu kan bahwa dia hafal Alquran, hafal sekian ribu Hadis , hafal kitab ini, hafal kitab itu, pasti dia lebih hebat dari kita, pokoknya aku tidak ada agumentasi-argumentasian, apa kata ulama ini ulama itu sudah benarlah itu seratus persen, kita ini tidak tahu apa-apa dibanding dia”.

Melihat diskusi aneh seperti ini, hatiku sering berbisik, “Kawan ini menjawab pakai pendekatan emosional, padahal yang ditanya argumentasi, argumentasi itu kan berkaitan dengan pendekatan intelektual”.

Ditulis oleh: Dr. Charles Rangkuti, M.Pd.I

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

code