Rab 21 Dzulkaidah 1445AH 29-5-2024AD
Terbaru:
Artikel

Demi Masa

Alquran dan hadis menaruh perhatian yang sangat serius terhadap waktu. Perhatian yang serius ini,  menunjukkan betapa pentingnya waktu, dan sekaligus menegaskan betapa besarnya nikmat Allah swt. di dalam waktu. Mengenai banyaknya karunia Allah swt. kepada manusia, yang dikaitkan dengan karunia waktu, Alquran menjelaskan dalam firman-Nya Q.S. Ibrahim/14:33-34.

Agaknya, maksud ayat yang direkam Alquran itu adalah, bahwa Allah swt. telah menjadikan malam bergantian dengan siang, dan begitu pula sebaliknya. Karenanya, siapa pun di antara manusia yang terlena dari mengerjakan perbuatan baik pada waktu siang, hendaklah ia berusaha mengganti perbuatan baik yang terlewat itu pada waktu malam, dan demikian pula sebaliknya. Sebab, hanya dengan cara seperti itu, manusia “dapat” membayar anugerah waktu, dan anugerah Tuhan lainnya, yang tidak dapat dihitung oleh manusia.  

Dalam menegaskan tentang pentingnya waktu, Allah swt. berkali-kali bersumpah pada permulaan ayat-ayat Alquran, dalam berbagai surah Alquran. Misalnya Allah swt. berfirman: Demi masa; demi waktu malam; demi waktu siang; demi waktu fajar dan demi waktu dhuha.

Para pakar tafsir berpendapat, jika Allah swt. bersumpah terhadap sesuatu dengan salah satu ciptaan-Nya, dalam konteks ini adalah waktu, maka sumpah itu menekankan agar manusia memerhatikan kepada isi sumpah itu. Itu demikian, karena di dalam kandungan ayat-ayat sumpah itu, pasti banyak manfaat yang akan didapatkan oleh manusia.

Sekali lagi, tentang pentingnya waktu, selain Alquran, Rasulullah saw. juga sangat mengukuhkan nilai waktu, dan menetapkan adanya tanggung jawab manusia terhadap waktu di hari kiamat nanti. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis:

Tiada ditegakkan hisab kepada seorang hamba pada hari kiamat, sebelum ia ditanya tentang empat hal, yaitu tentang umurnya kemana ia habiskan; tentang masa mudanya kemana ia habiskan; tentang hartanya dari mana ia peroleh, dan kemana ia belanjakan,; dan tentang ilmunya bagaimana ia amal kan.” (H.R. al-Bazzar dan Thabrani).

Kemarin, Kini dan Esok

Pemikir Islam kenamaan, Prof. Dr. Yusuf al-Qorodhowi mengatakan, bahwa masa atau waktu yang dihadapi oleh manusia ada tiga; masa lalu, masa kini dan masa depan. Di antara manusia, ada kelompok pengagum masa lalu; ada kelompok pengagum masa kini; dan ada kelompok pengagum masa depan. Selain itu, ada juga kelompok manusia yang bersikap tawazun/berimbang dalam menyikapi ketiga masa itu.

Pertama: Pengagum masa lalu; Mereka ini, hidup di masa lalu dan tidak merasa hidup di masa yang lain. Mereka ini, tidak mau memerhatikan masa sekarang yang sedang mereka jalani, dan tidak mau juga memerhatikan masa depan yang harus mereka perbaiki. Kondisi mereka, seperti kelompok manusia yang tidak punya tujuan, atau seperti kondisi keluarga dan orang tua di masa lalu, atau seperti kondisi suatu kaum dan bangsa yang telah hancur di masa lalu.

Kedua: Pengagum masa kini; Mereka adalah manusia yang tidak mau memandang ke masa lalu, dan juga tidak mau melihat ke masa depan. Mereka hidup hanya untuk hari ini dan di sini. Menurut mereka, masa lalu telah lenyap dan telah mati, dan yang telah lenyap dan mati tidak perlu dipikirkan lagi. Sedangkan masa depan, menurut mereka, adalah sesuatu yang gaib, dan sesuatu yang gaib adalah sesuatu yang tidak pasti. Oleh karena masa depan itu sesuatu yang gaib dan tidak pasti, maka ia tidak terlalu perlu untuk dipikirkan. Mereka ini telah dilalaikan oleh sikap yang berlebih-lebihan dalam melihat masa kini, sehingga lalai untuk melihat hari esok dan hari yang telah lalu. Mereka tidak mau menyibukkan diri untuk mempelajari sejarah, dan juga tidak mau pula merepotkan diri untuk mempelajari Filsafat.

Ketiga: Pengagum masa depan; Mereka ini, kelompok manusia yang terlalu bergantung kepada masa depan. Mereka membelakangi masa lalu dan berpaling secara total dari sejarah manusia terdahulu. Mereka juga membuang warisan kebudayaan, keagamaan dan peradaban secara total. Mereka tidak mau melakukan penelitian dan pemisahan antara yang benar dan yang salah; antara yang halal dan yang haram dan antara yang berguna dan yang berbahaya.

Keempat: tawazun/berimbang: sikap yang benar dalam menyikapi waktu, menurut padangan Alquran, adalah tawazun/berimbang, yakni pandangan yang berimbang terhadap masa lalu, masa kini dan masa depan. Oleh karena itu, manusia wajib melihat, mengisi dan mempersiapkan diri di ketiga masa tersebut. Sebab, dengan melihat masa lalu, manusia dapat mengambil pelajaran; dengan melihat masa kini, manusia dapat hidup dalam realitas; dan dengan melihat masa depan, manusia dapat memperbaiki apa yang diperkirakan akan terjadi. Wallahu a’lam bisshawab

Oleh: Fathia Nuzula Rahma, M. Ag, Pendidik di lembaga MHQ.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *