Bahasa Alqur’an

“Bahasa Arab yang jelas.” Demikian statemen Tuhan yang terekam sebanyak dua kali di dalam teks wahyu. Dalam menganalisa teks wahyu yang singkat ini muncul berbagai komentar dari mereka yang menekuni pemikiran dalam bidang tafsir.

Salah satu komentar yang menarik di antara sekian banyak komentar itu adalah komentar seorang pemikir yang menyatakan: “Maksudnya, Allah berbicara kepada manusia sesuai dengan tingkat kemampuan mereka, persis seperti manusia yang menggunakan bahasa ayam kepada ayam, seandainya Tuhan menggunakan bahasa Dia yang sebenarnya, niscaya manusia tidak akan paham apa yang Dia maksud”

Pernyataan pemikir tersebut menimbulkan pertanyaan: “Apakah manusia selalu menggunakan bahasa ayam kepada ayam? Nampaknya tidak! Bukankah sekali-sekali manusia juga menggunakan bahasa manusia kepada ayam?

Kalau demikian itulah keadaannya, maka kita sangat wajar mempertanyakan apakah para pemberi informasi agama harus selalu tunduk kepada bahasa/tingkat kecerdasan/selera masyarakat ketika menyampaikan informasi agama? Untuk menjawabnya mari kita analogikan dengan cerita manusia dan ayam yang di atas itu.

Kenyataan menunjukkan bahwa Allah juga tidak selalu berbicara kepada manusia sesuai dengan bahasa/tingkat kecerdasan/selera manusia. Contoh yang bisa diangkat dalam kasus ini adalah kurang tahunya, sebagian masyarakat yang ditemui Alquran, mengenai maksud sebagian kosa-kata Alquran.

Tentu kita masih ingat dengan cerita mereka yang tidak mengerti maksud frasa “benang hitam dan benang putih” dan maksud kata “abbā.” Untuk kasus yang terakhir ini, orang yang kurang tahu itu bukan orang sembarangan. Bagi yang berminat mengetahui siapa orang yang dimaksud, silahkan dilihat dalam Tafsir at-Ṭabarī.

Memang benar bahwa Nabi mengatakan: “Wakhatibinnasa ‘ala qudroti uqulihim.”Tapi kita kurang memahami secara mendalam kata-kata kunci yang ada dalam teks itu, khususnya kata “qudrah” dan kata “uqul,” sehingga kita sering terjebak dalam selera pasar dalam menyampaikan informasi agama.

Bukankah Nabi juga sering memberikan statemen yang menggungah pikiran para sahabat karena ketidak mengertian mereka mengenai apa yang beliau maksud? Sungguh melimpah teks-teks keagamaan tentang hal ini yang sudah barang tentu tidak bisa kita tuliskan di sini.

Yang ingin kita sampaikan adalah, mari kita cerdas dalam menyampaikan informasi agama kepada masyarakat. Jangan karena ingin menyenangkan masyarakat kita menjadi tunduk ke tingkat kecerdasan masyarakat!

Kalau kita terlalu tunduk kepada tingkat kecerdasan masyarakat dalam menyampaikan informasi agama, kapan ”IQ beragama” masyarakat kita akan naik? Di sisi lain, kalau kita yang terlalu tunduk kepada tingkat kecerdasan masyarakat, maka bisa jadi “IQ beragama” kita pula yang turun ke tingkat “IQ masyarakat.”

Kalau ini terjadi, siapa lagi yang bisa kita jadikan panduan untuk mengelola informasi agama? Bukankah salah satu tujuan kita dalam menyampaikan informasi agama untuk mencerdasakan kehidupan masyarakat? Kapan masyarakat kita akan cerdas kalau mereka selalu kita berikan “soal-soal” yang mudah?

Nampaknya, begitulah Fikih Dakwah yang harus kita kembangkan di era digital ini!

Ditulis oleh: Dr. Charles Rangkuti, M.Pd.I., Tenaga Pendidik Ma’had Tahfizhil Qur’an Yayasan Islamic Centre Sumatera Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

code