Membaca dan Menulis

Agak mengherankan memang, ternyata kata pertama yang dipindahkan oleh Tuhan dari langit yang tinggi itu ke bumi yang rendah ini bukan kata “salat,” tetapi kata “iqra.”

Secara sangat sederhana kata ini dapat kita artikan dengan kata “baca!.” Terjemahan tersebut sebenarnya sangat tidak memadai, tetapi nampaknya, paling tidak sampai saat ini, masih kata “baca” itulah yang paling dekat maknanya dengan kata “iqra.”

Kalau kita agak jeli, maka kita akan tahu bahwa perintah “membaca” ini sebenarnya mengisyaratkan perintah untuk “menulis,” karena sangat tidak mungkin kita bisa membaca kalau tidak ada yang ditulis. Sekalipun dalam bahasa yang agak filosofis kita dapat mengatakan bahwa yang dibaca bisa saja yang tertulis maupun yang tidak tertulis, tetapi kita semua sepakat bahwa tulisan adalah salah satu objek yang harus ada dalam bacaan.

Kalau begitu, dapat kita katakan bahwa membaca dan menulis bagaikan dua sisi mata uang yang harus sama-sama ada yang apabila salah satu sisinya hilang, maka sudah tidak wajar lagi disebut sebagai alat tukar yang sah.  

Selanjutnya, kalau kita menelusuri kata “tulis” dan kata-kata turunannya di dalam Alquran, maka kita akan menemukan data bahwa kegiatan tulis menulis di dalam Alquran ada yang  terjadi di alam fisika dan ada juga yang terjadi di alam metafisika. Artinya, tulis menulis itu ada yang berada di alam nyata, tetapi ada juga yang berada di alam yang tidak nyata. Untuk tulis-menulis yang pertama kita dapat melihatnya dengan mudah, namun untuk melihat yang kedua kita membutuhkan sarana lain.

Dari sini kita akan terkejut, karena ternyata cerita menulis ini tidak sesederhana yang kita duga selama ini. Dia bukan hanya terbatas pada cerita menulis yang dilakukan oleh para pemikir Islam selama seribu empat ratusan tahun lebih dan juga bukan hanya cerita menulis yang terjadi di perpustakaan Alexandria yang luar biasa itu.

Dalam perspektif wahyu, ternyata cerita menulis ini melampaui itu semua, yaitu melampau hingga ke alam yang tidak dapat diraba oleh pancaindra. Namun, memang begitulah Alquran, selalu mengejutkan! 

Sekian banyak petikan wahyu yang dapat dibentangkan untuk mengokohkan pernyataan-pernyataan yang kita kemukakan di atas. katakanlah misalnya Q.S al-Baqarah/2: 79. Di sana diinformasikan bahwa ada sekelompok manusia pada zaman dulu yang menulis di alam nyata. Petikan wahyu yang menginformasikan bahwa tulis menulis terjadi di alam metafisika adalah, antara lain, Q.S Maryam/19: 79. Dapat dilihat bahwa yang menulis di alam itu adalah “sesuatu” yang metafisika. Kalau enggan berkata, puncaknya metafisika.

Kalaulah demikian rumitnya masalah ini, khususnya bagi kita yang segan untuk berpikir “ribet”, lantas bagaimana caranya agar kita bisa melihat kedua aktivitas tulis menulis itu? Bukankah aktivitas yang kedua sangat tidak mungkin untuk dilihat karena berada di alam yang “antah-brantah?”

Bersyukur! Ternyata kita diberikan Tuhan potensi-potensi untuk dapat “melihat” kedua alam menulis itu. Potensi-potensi itu adalah pancaindra, akal dan hati yang pucaknya adalah wahyu. Untuk melihat alam menulis yang pertama kita bisa memfungsikan panca indra dan akal, sedangkan untuk melihat alam yang kedua kita hanya bisa memfungsikan hati. Jangan kita sekali-sekali memfungsikan mata untuk melihat alam kedua ini karena kita akan terjerembab.

Kenapa Allah membuat ribet cerita “menulis” ini dari alam fisik sampai ke alam mistik? Karena Dia tidak ingin badan kita terjebak di alam materi yang kerdil ini, tapi dia ingin mengangkat ruh kita untuk mendekat kepada-Nya. Bukankah ruh kita ini dahulunya bersumber dari Dia?

Ditulis oleh: Dr. Charles Rangkuti, M.Pd.I., Tenaga Pendidik Ma’had Tahfizhil Qur’an Yayasan Islamic Centre Sumatera Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

code