Masih Ada Harapan

Di tengah buruknya pandangan orang lain terhadap Agama Islam, karena perbuatan sebagian penganutnya hari-hari ini, seperti banyaknya umat Islam yang melakukan tindak pidana korupsi, itu semua tidak menyurutkan semangat kita untuk tetap berpacu memajukan agama yang kita yakini kebenarannya itu. Rasa optimis itu hadir, bukan saja karena, menurut pakar-pakar sejarah, kita saat ini sedang berada di abad kebangkitan Islam, akan tetapi juga karena Alquran memerintahkan kita supaya jangan pernah berputus asa dalam situasi seburuk apa pun.

Bisa jadi, sebagian kita sangat sering bertanya, “Dari mana harus kita mulai memperbaiki semua ini?” Jawabannya, “Mulai dari kembali kepada Alquran!”. Alhamdulillah! Sekitar enam tahun belakangan ini, ada perubahan yang sangat radikal di negeri kita tentang pendekatan kita kepada Alquran, yaitu tumbuhnya semangat kita yang sangat tinggi untuk menghafal Alquran. Gejala ini bukan hanya terjadi di kalangan umat Islam ber-ekonomi bawah, tetapi juga yang ber-ekonomi menengah, dan bahkan atas. Itu sebabnya, anak-anak umat Islam yang menghafal Alquran pada saat ini, bukan hanya mereka yang bercita-cita menjadi ahli agama, akan tetapi juga ingin menjadi ahli di bidang-bidang kehidupan yang lain.  

Terlepas dari berbagai kritik menyangkut fenomena baru ini, yang jelas fenomena ini membangkitkan rasa optimis kita untuk kembali membangkitkan Islam. Apalagi, di Indonesia saat ini terdapat -+ 800.000 Masjid dan Musalla. Itu artinya, dengan penduduk Indonesia yang berjumlah -+ 275.000.000, maka di setiap -+ 220 penduduk  terdapat Masjid atau Musalla. Yang mau kita katakan adalah, seandainya semua Masjid dan Musalla itu menerapkan ayat-ayat bersambung, di setiap salat lima waktu, yang dimulai dari juz 1 s.d juz 30, barangkali agama kita ini akan lebih cepat bangkit lagi. Sebab, dengan kebiasaan itu, masyarakat kita akan terbiasa mendengarkan ayat-ayat Alquran yang selalu menggerakkan jiwa dan pikiran. Hal ini sekaligus mengalihkan pikiran kita dari gosip-gosip “murahan” yang setiap detik beredar di media-media sosial.  

Akan tetapi, mewujudkan pergerakan ini bukan pekerjaan yang mudah, karena kita harus mempersiapkan sumber daya-sumber daya manusia yang hafal Alquran di setiap Masjid dan Musalla yang jumlahnya ratusan ribu itu. Tetapi, sekali lagi, dengan merebaknya lembaga-lembaga pendidikan tahfizh saat ini, mewujudkan wacana “tahfizisasi” imam di seluruh Nusantara ini bukanlah hal yang mustahil.  

Dan harus diingat juga, memperdengarkan ayat-ayat Alquran secara bersambung dan rutin di Masjid dan Musalla, yang jumlahnya ratusan ribu itu, baru langkah awal menuju ke “Kembali ke Alquran”. Langkah selanjutnya masih panjang dan berliku. Namun, harapan kita akan tetap ada, apalagi seperti kata orang bijak, “Apa yang tidak tercapai seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya”. Semoga kita berhasil dan menikmati proses yang sedang kita perjuangkan…!

Ditulis oleh: Dr. Charles Rangkuti, M.Pd.I., Tenaga Pendidik di Ma’had Tahfizhil Qur’an Yayasan Islamic Centre Sumatera Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

code