Guru

Sangat tidak mudah menyimpulkan siapa sebenarnya itu guru. Sudah sekian banyak tulisan ditorehkan untuk menganalisa siapa itu guru, tetapi semua tulisan itu masih tetap kurang untuk menggambarkan secara utuh siapa itu sebenarnya guru. Belum lagi, kalau kita lihat dalam pandangan Alquran. Ternyata, di dalam pandangan kitab suci itu, guru bukan hanya terbatas pada sosok manusia. Rupanya Malaikat, Nabi bahkan Allah swt. juga diakui oleh Alquran sebgai guru.

Tapi, di balik kesulitan menyimpulkan itu, kelihatannya satu yang pasti; tugas utama guru itu bukan untuk mempintarkan manusia, tetapi tugas utama guru adalah untuk membaikkan manusia. Itu demikian karena manusia pintar yang tidak baik ternyata bukan hanya tidak bermanfaat, akan tetapi justru merusak. Itu sebabnya, agaknya, mengapa semua kosakata yang digunakan oleh Alquran untuk menggambarkan tugas-tugas kenabian, yang juga merupakan guru itu, lebih banyak bermuatan spiritual tinimbang bermuatan intelektual.

Mari kita dalami misalnya kosakata “yatlu ‘alaihim, yuzakkihim” dan “yu’allim” dalam Q.S. 2:129,151; 3:164; dan 62: 2. Semua kosakata itu sangat kental dengan muatan spiritual, bukan muatan intelektual. Dan, bukankah Nabi mengatakan bahwa dia diutus bukan untuk mempintarkan manusia, akan tetapi untuk membaikkan manusia?

Kesimpulannya, tugas utama guru bukan untuk mempintarkan manusia, akan tetapi untuk mensucikan batin mereka. Caranya; dengan keteladanan dan pembiasaan, bukan dengan kejeniusan atau kepintaran guru.

Ditulis oleh: Dr. Charles Rangkuti, M. Pd. I, Pendidik di Ma’had Tahfizhil Qur’an Yayasan Islamic Centre Sumatera Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

code